Yen Jepang yang terus melemah semakin menekan rumah tangga, menaikkan biaya hidup, dan memperburuk inflasi. Taro Kono, anggota parlemen senior sekaligus kandidat potensial perdana menteri, memperingatkan bahwa Jepang tidak bisa lagi menunda kenaikan suku bunga dan penataan keuangan nasional.
Bank of Japan (BOJ) memang sudah mengakhiri stimulus besar-besaran pada tahun lalu, bahkan sempat menaikkan suku bunga jangka pendek ke level 0,5% pada Januari. Namun, menurut Kono, langkah tersebut masih terlalu lambat.
“Saya pikir lebih baik memulai lebih awal. Jepang harus keluar dari situasi di mana suku bunga riil negatif bertahan terlalu lama,” ujar Kono dalam wawancara dengan Reuters.
Yen Lemah: Dulu Berkah, Kini Jadi Beban
Dulu, yen yang lemah dianggap menguntungkan eksportir Jepang. Namun kini, situasi berubah drastis. Yen yang terlalu rendah justru mendorong inflasi tinggi, meningkatkan biaya impor, serta menggerus daya beli rumah tangga dan tabungan para pensiunan.
Bahkan, banyak kritikus menilai kebijakan BOJ yang terlalu berhati-hati justru
memperparah kondisi ini. Inflasi yang bertahan di atas 2% selama lebih dari tiga tahun telah membuat masyarakat menanggung beban berat, terutama di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok.
Ganti “Abenomics” dengan Kebijakan Baru
Kono menekankan bahwa sudah saatnya pemerintah dan BOJ bekerja sama untuk menciptakan kerangka ekonomi baru yang menggantikan “Abenomics”—paket kebijakan era Shinzo Abe yang mengandalkan stimulus moneter dan fiskal besar-besaran.
Krisis Politik Menambah Tekanan
Kondisi ini semakin rumit dengan gejolak politik internal Partai Demokrat Liberal (LDP). Kekalahan besar di pemilu majelis tinggi memicu desakan agar Perdana Menteri Shigeru Ishiba mundur, membuka peluang perebutan kursi pemimpin baru—dan nama Kono kembali masuk dalam radar.
Ke depan, arah kebijakan suku bunga BOJ dan reformasi fiskal akan sangat menentukan apakah Jepang mampu keluar dari tekanan inflasi, atau justru terjebak dalam lingkaran yen lemah yang kian melemahkan ekonomi.