Ketegangan geopolitik semakin mengguncang pasar global. Rencana permukiman baru Israel memicu kecaman dari Inggris, Prancis, Italia, dan negara-negara Uni Eropa lainnya. Sementara itu, inflasi di AS dan Jepang tetap menjadi sorotan, menambah tekanan terhadap kebijakan moneter global.
Ketegangan di Timur Tengah Memanas
Inggris, Prancis, Italia, dan 19 negara lain mengecam keras rencana pembangunan lebih dari 3.400 rumah permukiman baru di Area E1 Tepi Barat yang disetujui Israel. Dalam pernyataan bersama tanggal 21 Agustus, para pejabat menegaskan bahwa keputusan ini melanggar hukum internasional dan berisiko meningkatkan kekerasan serta merusak stabilitas regional. Mereka menyerukan Israel untuk membatalkan keputusan ini segera, mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB 2334, dan mencabut pembatasan keuangan terhadap Otoritas Palestina.
PM Israel, Benjamin Netanyahu, menanggapi situasi ini dengan menegaskan bahwa ia bertujuan mengakhiri perang dengan persyaratan yang dapat diterima Israel, termasuk negosiasi segera untuk pembebasan semua tahanan di Jalur Gaza.
Perkembangan Inflasi dan Kebijakan Moneter
Di Jepang, inflasi inti tetap jauh di atas target BOJ 2%, tercatat naik 3,1% YoY pada Juli. Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, menegaskan risiko inflasi tetap tinggi meski ketidakpastian perdagangan mereda. Investor kini memperkirakan BOJ akan melanjutkan pengetatan moneter.
Di AS, aktivitas manufaktur berkembang pada laju tercepat sejak 2022, mendorong tekanan inflasi tetap tinggi. Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee berharap lonjakan inflasi hanya bersifat sementara, sedangkan Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic masih memproyeksikan satu kali penurunan suku bunga tahun ini, tergantung kondisi pasar tenaga kerja. Presiden Fed Kansas, Jeffrey Schmid, menekankan kebijakan moneter yang cukup ketat tetap tepat untuk menahan risiko inflasi.
Sementara itu, Departemen Kehakiman AS mengumumkan penyelidikan terhadap Gubernur Fed Lisa Cook dan mendesak Ketua Fed Jerome Powell untuk mencopotnya, menambah ketidakpastian pada pasar keuangan.
Ketegangan geopolitik, inflasi tinggi, dan perdebatan kebijakan moneter global menjadi faktor utama yang akan menentukan arah pasar dalam beberapa pekan mendatang. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan terbaru dan menyesuaikan strategi portofolio dengan cermat.