Perkiraan terbaru Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menunjukkan pertumbuhan perdagangan global melambat menjadi hanya 0,9% pada 2025, turun tajam dari 2,9% pada 2024. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh kebijakan tarif AS, yang mendorong para importir untuk mempercepat pengiriman sebelum tarif baru diberlakukan, sehingga mengganggu alur perdagangan normal.
WTO memproyeksikan pemulihan ringan menjadi 1,8% pada 2026, namun angka tersebut tetap di bawah perkiraan sebelumnya, mencerminkan ketidakpastian yang terus berlanjut bagi dunia usaha dan rantai pasok.
Direktur Jenderal WTO, Ngozi Okonjo-Iweala, memperingatkan bahwa kebijakan perdagangan AS masih membebani kepercayaan korporasi, meski ketiadaan siklus tarif balasan berskala besar sejauh ini membantu membatasi potensi kerugian bagi perdagangan global.
Perpindahan Modal ke Saham Non-AS
Tarif tidak hanya mengubah perdagangan, tetapi juga mengalihkan arus investasi. Untuk pertama kalinya sejak 2022, pasar saham internasional mengungguli S&P 500. Secara year-to-date, indeks utama di Meksiko, Kanada, Jerman, Spanyol, Brasil, dan Inggris mencatat kenaikan antara 11%–26%. VN-Index Vietnam melonjak sekitar 25% pada 2025, mencapai 1.584,95 pada awal Agustus.
MSCI World ex-US Index naik 18% pada 2025, lebih dari dua kali lipat kenaikan S&P 500 yang sebesar 7,8%. Analis mengaitkan perbedaan ini dengan valuasi saham AS yang tinggi dan melambatnya pertumbuhan domestik, disertai momentum reformasi kebijakan yang lebih kuat di luar negeri. Kanada, Jepang, dan beberapa negara Eropa telah meluncurkan kebijakan ramah investor dan reformasi ekonomi, sehingga menjadi tujuan menarik bagi modal jangka panjang.
Tarif Sebagai Pemicu Utama
Peningkatan tarif impor diperkirakan akan menekan margin laba perusahaan AS, khususnya di sektor yang bergantung pada rantai pasok global. Sebaliknya, banyak perusahaan Eropa dan Jepang menghadapi tekanan tarif yang lebih kecil dan mendapat keuntungan dari lingkungan kebijakan yang mendukung.
Craig Basinger dari Purpose Investments mencatat bahwa lingkungan investasi di negara-negara yang melakukan reformasi semakin menarik dibandingkan AS. Namun, para ahli strategi di Manulife John Hancock memperingatkan bahwa resesi AS dapat berdampak pada pasar global, yang berpotensi mengurangi manfaat diversifikasi.
Dalam kondisi saat ini, peralihan ke saham internasional dipandang banyak pihak sebagai langkah strategis yang dapat memberikan imbal hasil jangka panjang yang lebih unggul, karena investor mencari nilai dan ketahanan di luar pasar AS.