Tahun 2025 menjadi babak baru dalam ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump dan China yang dipimpin Presiden Xi Jinping. Trump berhasil meraih kemenangan taktis jangka pendek, namun Xi tetap memegang senjata strategis yang mampu menentukan arah jangka panjang.
Tarif Tinggi, Kemenangan Cepat Trump
Awal tahun ini, Trump menaikkan tarif hingga rekor 145% sebelum menurunkannya menjadi 30% pada Mei sebagai bagian dari negosiasi. Langkah ini disertai komitmen China membeli produk pertanian AS dan menghentikan beberapa investigasi antitrust.
Hasilnya, Trump tampil sebagai negosiator tangguh tanpa memicu resesi. Ekonomi AS menunjukkan ketahanan: PDB rebound di kuartal kedua, inflasi rendah, dan pasar saham menguat. Pendapatan tarif melonjak hingga puluhan miliar dolar per bulan, meski pertumbuhan lapangan kerja melambat dan risiko struktural tetap ada.
Kartu As Xi: Kendali Sumber Daya Kritis
Di balik kemenangan Trump, Xi memegang kendali 90% kapasitas global pengolahan mineral rare-earth — kunci industri pertahanan dan manufaktur teknologi tinggi. Beijing menahan izin ekspor untuk menekan AS melonggarkan kontrol pada chip AI canggih. Tekanan ini berhasil: Trump mengizinkan pengiriman chip Nvidia H20 dan mempertimbangkan versi terbatas chip Blackwell, berbalik dari sikap keras sebelumnya.
Daya Tahan Ekonomi China
China mengatasi dampak tarif dengan diversifikasi ekspor ke Amerika Selatan dan Afrika. Semester pertama 2025, ekspor tumbuh 5,9% YoY dengan surplus perdagangan rekor $586 miliar. Stabilitas ini mengikis efektivitas tarif AS sebagai senjata jangka panjang.
Kemenangan Simbolis Xi
Xi juga menahan pertemuan langsung dengan Trump, manuver simbolis yang meningkatkan tekanan diplomatik tanpa memicu eskalasi. Strategi ini memberi ruang bagi Beijing untuk mengamankan konsesi tambahan sambil menghindari konfrontasi terbuka.